Head Office
Head Office
Marketing
(+62) 21-53133758 Mon - Fri 09:00 - 17:00 WIB Tanggerang Selatan, Banten - Indonesia
Whatsapp: (+62) 812 9822 6899
The Best
#1 in Indonesia
Number #1
Suplier in region
Get A Quote

Bungkil Sawit untuk Pakan Unggas

Pakan ternak dari Bungkil Sawit

Banyak sekali pertanyaan yang masuk di sosial media kami, tentang apakah bungkil inti sawit atau palm kernel expeller/cake/meal bisa untuk pakan unggas, khususnya ayam?

Pasalnya selama ini, pakan ternak merupakan variabel yang nilainya mencapai 60-70% dari total biaya produksi. Sebagian besar bahan baku, misal bungkil kedelai dan tepung ikan masih diimpor. Para peternak domestik tentu menyambut baik ide pakan alternatif yang lebih murah dan lebih mudah didapat seperti bungkil sawit.

Bungkil sawit mengandung mengandung 15,14% protein kasar, 6,08% lemak kasar, 17,18% serat kasar, 0,47% kalsium, 0,72% fosfor, 57,80% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), dan 5.088 kkal/kg energi bruto yang potensial sebagai pakan unggas.

Hanya saja serat kasar bungkil sawit masih sangat tinggi. Padahal serat kasar tinggi, terutama lignin, dalam ransum menyebabkan penurunan aktivitas enzim pemecah karbohidrat, lemak, dan protein. Akibatnya nutrisi yang dapat dicerna oleh unggas berkurang.

Untuk itu bungkil sawit mesti diolah dulu dengan cara difermentasi menggunakan kapang Marasmius sp. Mikroba itu menghasilkan enzim laktase dan peroksida yang dapat merombak dan melarutkan lignin. Enzim lain, lignoselulotik, memecah ikatan lignin dengan selulosa, ikatan lignin dengan hemiselulosa, dan ikatan lignin dengan protein. Pecahnya ikatan lignin itu menurunkan kandungan serat kasar pada bungkil sawit. Marasmius sp juga memproduksi enzim glukosida yang dapat memecah ikatan glikosidik sehingga serat kasar terdegradasi menjadi ikatan lebih sederhana. Dalam bentuk itulah ia bermanfaat sebagai pakan ayam karena lebih mudah dicerna.

Berdasarkan riset dari Dr Ir Tuti Widjastuti MS dan Dr Ir Abun MP, peneliti di Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran menunjukkan, fermentasi selama 3 minggu menggunakan inokulum Marasmius sp berdosis 7,5% paling baik meningkatkan kandungan nutrisi bungkil sawit. Kandungan bahan kering dan protein bungkil sawit meningkat masing-masing menjadi 75,69% dan 27,62%. Sebaliknya serat kasar turun menjadi 38,28%.

Peningkatan populasi kapang Marasmius sp pada proses fermentasi membutuhkan banyak air. Konsekuensinya kandungan bahan kering pada BIS naik. Proses pemecahan serat kasar dan perombakan karbohidrat menjadi energi mendongkrak kandungan nitrogen. Ujung-ujungnya kandungan protein meningkat.

Bungkil sawit yang difermentasi memiliki kandungan protein lebih tinggi – 18,33% – dan serat kasar lebih rendah – 15,51% – ketimbang nonfermentasi.  Pada ayam broiler protein berperan dalam pembentukan dan pertumbuhan jaringan tubuh seperti kulit, daging, otot, dan sebagian tulang. Serat kasar lebih sedikit membuat karbohidrat dan lemak lebih banyak dicerna. Artinya dengan pakan dari limbah sawit (bungkil sawit), kebutuhan nutrisi ayam ras terpenuhi.

Dari hasil penelitian, penggunaan 30% bungkil inti sawit fermentasi dicampur jagung kuning, dedak halus, bungkil kedelai, bungkil kelapa, tepung ikan, tepung kerang, tepung kapur, dan premix. Campuran ransum itu mengandung 22,41% protein, 7,31% lemak, 6,45% serat kasar, 1,49% kalsium, 0,75% fosfor, 1,33% lisin, 0,85% metionin, dan 3.002 kkal/kg energi metabolis.

Hasilnya dengan 30% bungkil inti sawit yang sudah difermentasi pada pakan peningkatan bobot ayam ras sama seperti jika menggunakan 100% pakan pabrik. Dan sekaligus menurunkan biaya pakan keseluruhan hingga 25%.

About the author

PT. INTINUSA NIAGA ABADI (INNA) is a trading company engaged in the field of Agribusiness, focusing in Palm Products and the Derivatives, serving both local & export markets